Subscribe

Powered By

Free XML Skins for Blogger

Powered by Blogger

Oktober 25, 2009

End of Road


Ujung dari perjalanan itu berkahir di sini. Mohon maaf apabila ada tulisan ataupun kata-kata dalam blog ini yang tidak berkenan di hati pembaca.

Wassalam,

G

Oktober 22, 2009

Dinner Itu...

Dinner semalam itu menggelikan. Athmospherenya cozy, makanannya delicious, suasananya romantis pake candle light dinner segala, rhytme musiknya juga syahdu diiringi gamelan khas Bali dengan wangi semerbak bunga sedap malam. Tapi yang duduk di balkon itu dua mahluk tomboi yang duduknya sama-sama ngangkang kayak abang becak lagi nyetir. Hahahahahahaha. A great night frenz!!

"Next time dinner lebih romantis dari ini di DC yak G." Wekekekekek, ogah ahhhh Sped jauhhhhhhhhhhhh n aneh aje suasana melankolis getu gak ada femme-nya :D Next time dinner-nya sambil bawa patner masing-masing aja yak!@*&^?!

23.10.09

**Comeback again soon, Frenz :)

Oktober 21, 2009

Poligami Club


Pro-kontra soal poligami belumlah tuntas. Bahkan, pihak Majelis Ulama Indonesia (MUI) pun belum mengeluarkan keputusan, boleh-tidaknya seorang pria memiliki lebih dari satu istri. Tidaklah demikian bagi para pelaku poligami di Bandung, Jawa Barat, mereka meluncurkan klub bernama Poligami Global Ikhwan Indonesia.


Menurut Mochamad Umar, klub poligami yang diketuainya, awalnya berasal dari Malaysia. Hingga kini anggotanya telah mencapai 300 orang dan tersebar di sejumlah negara di Asia Tenggara. Selain Indonesia, mereka berada di Malaysia dan Thailand. Sedang di Bandung sendiri, aku Umar, jumlah anggotanya mencapai 30 orang.

Menanggapi pro-kontra soal poligami, Umar menjelaskan konsep poligami yang dianut kelompoknya adalah poligami sebagai ibadah. Juga, lanjutnya, dengan berpoligami, "Bagaimana menjadi seorang pemimpin dalam sebuah keluarga, serta pembagian tugas dalam sebuah keluarga. Jadi bukan semata-mata memenuhi keperluan seks."

Ia menjelaskan, kenapa poligami menjadi obat mujarab untuk mendapatkan cinta Allah, sebab dengan poligami seseorang akan senantiasa mengalami kesusahan dalam hidupnya. Klub ini, jelas Umar, bukan sekadar mengumpulkan kaum pria "gemar kawin", tapi juga memiliki usaha.

"Ketika dia dalam kesusahan, maka dia akan meminta pertolongan kepada Allah. Kesusahan yang dialami seorang istri yang suaminya berpoligami sifatnya terus-menerus, maka dia pun akan terus meminta tolong kepada Allah," ujarnya. (Sungguh memalukan ketika agama dijadikan tameng untuk memenuhi nafsu syahwat semata).


Pro-kontra soal poligami memang bukan kali ini saja muncul. Beberapa waktu lalu Puspo Wardoyo, pemilik sebuah restoran terkenal bahkan sempat diprotes. Penyebabnya, restoran yang dikelolanya menyajikan minuman bernama jus poligami. Padahal kandungan dalam jus tersebut tak terlalu istimewa, seperti buah jambu merah, alpukat dan sirsak dicampur es.

Tidak itu saja, sang pemilik restoran bahkan menerima anugerah "Poligami Award" dari Forum Silaturahmi Jurnalis Muslim (Form). Anugerah ini diterima karena Puspo adalah pelaku poligami dengan empat istri.

Namun pihak MUI tidak menolak keberadaan klub poligami ini. Menurut salah seorang ketuanya, Amidhan, tak ada alasan untuk menolak keberadaan organisasi seperti klub poligami. Sebab, di negara demokrasi seperti Indonesia, siapapun boleh membentuk organisasi, selama bukan organisasi kejahatan.

Seperti sudah diduga, lembaga swadaya masyarakat (LSM) Institut Perempuan menolak adanya klub Poligami Indonesia. "Kami menolak Klub Poligami Indonesia. Peluncuran Klub Poligami ini telah menyakiti hati perempuan dan merupakan bentuk kekerasan terhadap perempuan," kata Direktur LSM Institut Perempuan, Elin Rozana, dikutip Antara di Bandung, Senin.

"Jelas, Klub Poligami ini telah melanggar Konvensi Penghapusan Segala Bentuk Kekerasan terhadap Perempuan yang telah ditandatangani pemerintah. Salah satu bentuk kekerasan dalam konferensi tersebut ialah poligami," ujar Elin.

Menurutnya, alasan lain penolakan terhadap Klub Poligami ialah berdasarkan pengaduan yang diterima Institut Perempuan selama ini, praktik poligami dinilai menimbulkan tekanan psikis, penganiayaan fisik, ketidakadilan dan penelantaran, baik istri maupun anak.


Lalu bagaimana dengan poligami hubungan sesama jenis? Apakah klub nya akan segera diluncurkan juga dengan alasan sebagai bentuk dari ibadah? Plisss deh :D


21.10.09

Oktober 20, 2009

Forgiven, Not Forgotten


You're forgiven not forgotten,
you're forgiven not forgotten,
you're forgiven not forgotten,
and you’re not forgotten...


Sepenggal lyric lagu The Corrs yang nge-hit di akhir tahun 2006. Pasti dalam hidup kita pernah ngalamin yang namanya 'black hole', masa dimana hidup benar-benar kelam dan menyakitkan. Entah itu karna kehilangan keluarga, tertimpah musibah, putus cinta, sakit hati ataupun hal lain yang menggores pelangi hidupmu menjadi buram. Yup! Aku pun pernah mengalaminya, seperti cahaya yang timbul tenggelam hadir menyinari bumi.


Siapa di antara kita yang tak pernah melakukan kesalahan? Siapa pun kita pasti pernah melakukan kesalahan, kekhilafan, dan kealpaan. Tak pelak, manusia itu pulalah yang menjadi tempat “bersemayamnya” kesalahan. Sekarang tergantung kualitas dan kuantitas kesalahan itu sendiri. Soal kualitas, artinya menyangkut kadar atau berat kesalahan tersebut, dan soal kuantitas menyangkut banyak atau seringnya melakukan kesalahan.


Dalam konteks hubungan dengan Allah SWT secara vertikal, perbaikan diri untuk “melepas” kesalahan itu adalah melalui jalan pertaubatan, meminta ampun kepada-Nya yang disikapi oleh rasa penyesalan dan berdosa, lalu ditindaklanjuti dengan proses penghentian pekerjaan yang dipandang salah itu. kemudian melepas diri untuk tidak lagi melakukan perbuatan serupa di kemudian hari.


Adapun dalam soal kesalahan terhadap sesama manusia, maka Islam mengajarkan bahwa yang bersalah sejatinya terlebih dulu meminta maaf kepada orang yang menjadi korban kesalahan itu, barulah kemudian Allah Swt mengampuni kesalahan atau kekeliruannya itu.


Lalu bagaimana apabila orang yang berbuat salah itu tidak mengucapkan kata maaf dan bahkan tidak mengindahkan akibat dari perbuatannya? Mengganggapnya seperti angin lalu dan layaknya tak pernah terjadi. Dalam ajaran Islam membalas itu tidak terlarang, akan tetapi memaafkan itu lebih baik. Jika benar-benar kita ingin membalas, balasan itu hendaknya tidak lebih dari yang ia terima. Berlebih-lebihan dalam pembalasan merupakan tindak kezhaliman.


Bulan haram dengan bulan haram, dan pada sesuatu yang patut dihormati, berlaku hukum qishash. Oleh sebab itu barangsiapa yang menyerang kamu, maka seranglah ia seimbang dengan serangan terhadapmu. Bertaqwalah kepada Allah dan ketahuilah, bahwa Allah bersama orang-orang yang bertaqwa.” QS al-Baqarah: 194.


Akan tetapi, tanpa kita balas pun Allah itu Maha Adil. What goes around comes around. Menyitir quote John F. Kennedy, "Forgive your enemies, but never forget their names."


21.10.09


**For sure, I will forgive you but I will never forget what you've done...


Oktober 19, 2009

Be Happy!

Suatu hari Rasulullah bertemu dengan salah seorang sahabat yang kondisinya sangat memprihatinkan sehingga mengundang perhatian Rasul dan beliau bertanya, “Mengapa kamu menjadi seperti ini?”


Orang tersebut menjawab penuh percaya diri bahwasannya dia menjadi seperti itu justru karena doanya. Doanya adalah, “Ya Allah, berilah saya kesengsaraan dunia dan jadikan kesengsaraan dunia sebagai indikator bahwa saya akan mendapat kebahagiaan akhirat.”


Mendengar jawaban itu Rasulullah hanya bersabda, “Inginkah aku tunjukkan doa yang lebih baik dari itu?” Lalu dari peristiwa ini turunlah Surah Al-Baqarah : 201 Robbana atina fiddunyaa hasanatan wa fil aakhiroti hasanatan waqinaa adzaabannaari (Ya Allah berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka). Kemudian itu yang kita kenal dengan doa sapu jagat.


Jadi Rasul lebih suka kita punya sebuah kerangka berfikir bahwa kita berusaha untuk mendapatkan kebahagiaan dunia dan akan mejadikan kebahagiaan dunia sebagai jembatan untuk mendapatkan kebahagiaan akhirat.


Menurut Ibnu Abbas salah seorang ulama tafsir di kalangan sahabat pernah menyebutkan bahwa yang dimaksud kebahagiaan dunia itu ada 6, yaitu :


Pasangan hidup yg sholeh

Pasangan hidup yang terdapat dalam Al-Quran dalam surat At-Tahrim.


Anak yang jadi penyejuk hati

Anak bisa jadi surga dunia atau neraka dunia. Walau keluarga pas-pasan tapi anak sholeh maka dianggap oleh lingkungan sebagai keluarga yang sukses dan berhasil.


Lingkungan yang sholeh

Kalau kita punya teman yang sholeh itu adalah kebahagiaan dunia. Tidak semua orang pintar ato cerdas dan arif dalam menghadapi persoalan. Tidak selamamya kecerdasan berbanding lurus dengan kebijaksanaan. Majelis taklim bukan hanya sekedar tempat mencari ilmu tapi tempat mencari teman dan bergaul di lingkungan yang sholeh. Nabi bersabda, “Siapa yang duduk di majelis taklim dan niatnya ikhlas maka malaikat akan memberi barokah kepada majelis itu dan langkah yang dilakukan akan menjadi kifarah dosa-dosanya.


Harta yang halal

Kalau yang menjadi paradigma kita atau tolak ukur kita itu harta yang banyak, hati-hati kita cenderung menghalalkan segala cara. Tapi kalau tolak ukur kita itu harta yg halal insya Allah kita akan bekerja keras mencari yang halal, dan syukur-syukur bisa berlimpah rezekinya.


Keinginan untuk memahami Islam dan mau mengamalkan

Ada keinginan dan semangat untuk memahami Islam, dan itu patut disyukuri sebab tanpa keinginan yang kuat dan hidayah Allah maka semua itu tidak akan tercapai. Masalah terbesar yang dihadapi umat Islam adalah banyak yang mengakui dirinya muslim tapi tak mau memahami Islam, sehingga banyak hadist dan ayat Al Qur’an yang disalah artikan dan diplintirkan maknanya. Timbul-lah aliran-aliran Islam yang menyimpang, dan cenderung berjalan ke arah sekularisme. Mendoktrinkan bahwa ajaran semua agama itu adalah sama.


Umur yang barokah

Nabi bersabda, “Andaikan kamu meninggal, kamu akan mendengar derap kaki orang yang mengantarkan jenazahmu itu pulang dan yang menjadi teman setia untuk menemani adalah amal sholeh. Maka ukuran kebahagiaan dunia adalah bagaimana kita bisa mengisi hidup yang singkat ini dengan kesholehan. Usia semakin bertambah justru harus membuat diri kita semakin mencintai akhirat dan mendekatkan diri kepada Allah Swt.


20.10.09